INGATAN MALAM ITU

 Berbicara mengenai hubungan, aku pernah membuat janji sewaktu masih kecil dengan tetangga yang umurnya hanya terpaut satu tahun denganku, untuk menjadi sahabat. lucu rasanya ketika mengingat kembali momen itu, dimana aku yang menawarkan perihal untuk menjadi 'sahabat' selamanya dengan membuat pinky promise dengannya. Kira-kira itu terjadi sewaktu aku duduk di bangku kelas 4/5 atau sekitar usia 10/11 tahun. Lalu.. tepat di hari ini, aku sedang merenungkan kata friendship dan teringat momen ini, lagi pula, hari ini tepat ulang tahun temanku yang sedang ku bicarakan. haha panjang umur.

Anyway, setelah membuat janji dengan temanku, hubungan kami sebagai 'teman' atau mungkin 'sahabat' tidak berubah sebenarnya haha apalagi temanku anak rumahan dan jarang main keluar. Walaupun rumah kami cuma berjarak 5 langkah, tapi aku jarang main dengannya. Beranjak remaja dan memasuki SMP hingga mulai sibuk dengan les sana sini, membuat kami makin jarang berpapasan dan bermain. Sampai aku lulus SMA dan kuliah di Pulau Jawa pun aku jarang komunikasi dengannya. 

Hingga akhirnya pandemi dan aku pulang ke rumah lagi. Kebetulan sekali kami tinggal di daerah yang sama walau sedikit jauh (kami sama sama pindah namun pada waktu yang berbeda), dan akhirnya ketemu dan ngobrol banyak. Dan setelah berbincang lama, aku merasa bahwa sebenarnya kami cukup akrab dan memiliki selera humor yang mirip. Selama ini kami tidak cukup akrab karena memang intensitas bertemu saja hampir nihil, lalu bagaimana mungkin kedekatan dan persahabatan bisa terjalin? Ya kan?

Kembali lagi pada waktu sekarang, aku tiba tiba teringat pada memori ini karena sedang membaca novel dan sinopsisnya mengenai persahabatan. Aku merasa sampai hari ini, aku tidak punya sahabat yang benar benar sahabat. Punya teman dekat? ya, punya. Tapi bukan teman dekat yang bisa aku ajak bicara kapan pun atau telfon kapan pun. Atau aku yang tidak pernah mau membina hubungan dengan orang lain? Ini menjadi pertanyaan terbesarku, kenapa sampai detik ini aku susah punya sahabat dan kenapa aku susah untuk bercerita. 

Memang, aku tumbuh dari asupan (film, bacaan, dan pengalaman) yang aku konsumsi. Setelah ditelaah aku lebih banyak menyimpan dalam hati dan pikiranku. Aku lebih senang berimajinasi liar di dalam pikiranku dibandingkan harus bercerita kepada orang lain. Aku suka membuat skenario dalam kepala kecilku ini. Itulah kenapa aku bahkan sulit untuk bercerita karena memang jarang mengelaborasi kata kata menjadi kalimat dan cerita yang menarik. Aku kadang merasa kelu saat harus bercerita dengan runut dan rapi kepada orang lain. 


Nov 30th, 2022

Comments

Popular Posts