FADE AND GONE
“FADE AND
GONE”
by: Cristina Ayu
by: Cristina Ayu
BABAK
; 1
Shella menatap pria yang terbaring lemah dilantai,
pria itu seperti ingin mengatakan sesuatu, sesuatu yang mungkin sangat rahasia
dan penting untuk shella ketahui. Ia terus menatap sebuah laci yang tertutup
rapat, dan hendak menunjuk sesuatu dalam laci itu pada Shella. Namun, nyawa nya
hanya sebatas itu, darah terus mengalir dari ulu hatinya. Ia bahkan tak sempat
mengucapkan sepatah kata pun pada Shella, adiknya. Ia hanya memberi salam
perpisahan berupa air mata yang mengalir dari matanya. 29 Februari 2012, tepat
pada hari ulang tahunnya yang ke-16, ia meninggal. Sebastian telah meninggalkan
adiknya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Frustasi.. mengalami stress
berat.
Shella menatap tanganya yang berlumuran darah, ia
memberikan senyum sinis kepada Sebastian yang ada di hadapannya. Ia hanya
tertawa, merasa tak bersalah telah membunuh kakaknya yang sangat mencintainya.
Shella tertawa lagi, kali ini dengan sangat getir.
Shella : ini bukan salahku.! Kau hanya lupa bernafas
dan sekarang telah mati. Ha ha ha (tertawa dengan sangat lemah dan mengambil
pisau yang ada didepannya. Ia kembali menusuk perut Sebastian yang telah
kehabisan darah. Shella seperti orang yang sakaw. Ia tidak puas hanya dengan
menusuknya dengan sekali tusukan. )
Shella : kau telah membunuh mereka! Kenapa baru sekarang
memberitahuku? Hah? Kau pikir dirimu siapa? Apa kau akan kembali suci hanya
dengan menceritakan hal itu padaku? Kau telah membunuh mereka, dan sekarang
giliran ku untuk membuatmu merasakan hal yang sama seperti yang kau lakukan
pada mereka..!! (Shella mengangkat tinggi pisaunya dan kembali menusukkan pisau
untuk yang terkahir kalinya. )
Shella tertawa bahagia, namun setelahnya ia menangisi
Sebastian yang penuh dengan noda darah.
BABAK
: 2
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Shella
berhenti menangisi Sebastian yang telah mati. Ia langsung bangkit berdiri dan
tanpa berpikir panjang langsung menyeret mayat Sebastian kedalam sebuah lemari
yang kosong dan menyimpannya di dalam sana.
Shella langsung mengelap noda-noda darah yang
menghiasi lantai. Dan menyimpan pisau yang tergelatak di lantai ke dalam sebuah
laci meja.
“sempurna”
batin Shella dalam hati sambil menyunggingkan senyum sinisnya kembali,
ia berlari menghampiri seseorang yang berada di luar yang sedari tadi menunggu
seseorang untuk membukakan pintu untuknya.
Shella : “Jo, a-ada apa kau datang kesini?” (Shella
panik, tetapi ia tetap mempertahankan ekspresi datar untuk menyambut Jo seperti
biasa)
Jonathan : “aku hanya ingin menemuimu saja. Shella,
apa kau baru saja menangis? Apa yang terjadi?” (dia menghambur masuk ke dalam
rumah dan mendapati beberapa kaca pecah di atas lantai.)
Jo menyerngitkan dahinya sambil menatapku seolah-olah
sedang menebak pikiranku. Bertanya-tanya apa gerangan yang telah terjadi?
Sampai-sampai aku harus terpaksa tersenyum untuk mengurangi rasa
kekhawatirannya.
Shella : “ tidak terjadi apapun Jo, hanya sedikit
pertengkaran dengan seseorang”
Jonathan : ” Ada apa denganmu? Siapa yang tengah
berusaha menyakiti gadisku? Siapa orang itu? Apa dia sudah pergi?” Jo menatapku
lekat-lekat, mencari sebuah jawaban yang tercermin dalam mataku.
Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku ke arah lain,
Shella : Aku membunuhnya Jo.. Dia berbohong padaku.
Jadi, aku membunuhnya dengan cara yang mungkin kau sendiri tak bisa
membayangkannya.
Jonathan : “ siapa yang kau maksud sayang? Siapa yang
membohongimu? (Jo meletakkan kedua tangannnya dia atas bahuku. Menatapku dengan
curiga. Dia pasti telah curiga padaku.)
Shella : “ Aku membunuh kakakku sendiri. Sebastian
telah mati!” jawab Shella hampir tak mengeluarkan suara. Suaranya serak karna
teriakannya yang begitu keras tadinya.)
Jo terdiam, terhenyak dan terduduk di lantai. Dia
hanya diam tak bersuara , tak menanggapiku lagi.
Jonathan : “ kenapa kau membunuhnya Shella?” tanyanya
dengan dingin. “Apa yang telah ia tutupi darimu? Kenapa kau membunuhnya??? (Jo
berteriak pada Shella yang berdiri mematung didepan Jo)
Shella : “Aku juga tidak tau kenapa aku harus
membunuhnya, Jo. Itu terjadi begitu saja, tanpa ada perencanaanku sebelumnya.”
(Shella mengingat kembali betapa
mengerikan tindakan yang telah ia
lakukan tadi )
Shella menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang
lembut. Jo bangkit berdiri dan menanyakan kembali kenapa ia membunuh kakaknya
sendiri.
Jonantha : “dia sangat menyayangimu dan apa kau sudah
gila ?? apa yang terjadi denganmu Shella? (Jo mudur beberapa langkah, mencari
keseimbangan untuk berdiri dengan benar.)
Shella : “ Dulu, ia mengatakan kalau orang tua kami
meninggal karna kecelakaan, tetapi dia mengakuinya bahwa ia membunuh mereka.
Jika kau jadi aku, kau pasti juga akan sangat marahkan, Jo??”
Jonanthan : “ tapi, apa kau tahu apa alasannya?
Kenapa ia berbohong padamu?”
Shella berjalan mendekati Jo, dan Jo semakin berjalan
mundur.
Shella : “dia tidak mengatakannya, dan aku yang
mendengar hal itu langsung saja membunuhnya. Dan itu telah terjadi, jadi apa
yang harus kulakukan? haa?”(Shella berjalan menuju sebuah lemari dan
membukanya)
Jo semakin bingung dengan apa yang telah terjadi pada
Shella, kekasihnya yang selama ini berwatak lembut dan ceria. Kini telah
berubah menjadi wanita yang ganas dan sedikit mulai gila. Jo mengalihkan
pandangannya ke lemari yang sekarang telah menganga dan menampakkan isinya.
Sebastian, sahabat karibnya, kini telah tertidur lemah dalam lemari tua yang
kuno itu. Dia berlumuran darah, beberapa lubang di bajunya menandakan bahwa ia
terkena tusukan beberapa kali.
Shella : “ha ha ha . . melihat ekspesimu yang seperti
itu membuatku sangat jengkel terhadapmu Jo.. Kau hanya mengkhawatirkan Bastian,
bukan aku. “
Shella membuka laci tempat ia menyimpan senjatanya.
Didalamnya juga terdapat sebuah pistol. Tanpa berpikir panjang, Shella
melampiaskan kekesalannya dengan mengarahkan pistol tersebut ke arah Jonathan,
kekasihnya sendiri. Saat Jo akan menoleh padanya, Shella menutup matanya dan
menarik pelatuk pistol yang ada ditangannya. Jo hanya sempat memberikan senyum
manisnya dan berkata “Aku mencintaimu, Shella”
sebuah kalimat yang belum pernah Shella
dengar dari Jo, sekarang terucap begitu fasih, dan terdengar begitu
cepat. Shella hanya bisa menangisi Jo.
BABAK III
Shella mengusap
air matanya, pistol yang digunakannya untuk menembak Jo terjatuh ke
lantai. Pikirannya menerawang, jauh entah kemana. Dia masih belum sadar akan apa yang telah ia
lakukan.
“mereka telah mati, menghilang, dan lenyap. Orang orang
yang kusayang, mereka telah pergi meninggalkan ku” shella tertawa,miris. Tawa
yang mengundang air mata untuk mengalir lagi dipipinya yang halus dan lembut.
Tangannya bergetar, tak tahu laggi apa yang harus
dilakukannya. “seseorang muncul dalam kehidupanku, lalu mereka pergi
meninggalkan ku, seorang diri. Makhul macam apa mereka?? Haah? Kalian ini
sebenarnya apa? Meninggalkan diriku yang bodoh tanpa mengatakan sepatah
katapun.. apa lagi yang harus aku lakukan untukmu Jo?” Shella beralih menatap Jo
yang tergeletak dan bersimbah darah yang keluar dari kepala. Dia merangkak
mendkati Jo.
“apa yang harus kulakukan? Kenapa kau hanya membela
Sebastian atas apa yang telah ia lakukan terhadap orangtuaku?? Haah?? Jawab
aku,Bodoh!! Sayang, tolong jawab aku,” Shella memeluk Jo.
Shella menunjuk Sebastian, yang meringkuk dalam
sebuah lemari kecil. “Dan kau, apa yang telah kau pikirkan saat membunuh orang
tua kita? Lalu apa yang kau inginkan, Jawab!! Tolong Jawab siapa saja antara
kalian berdua. Tidakkah kalian punya mulut untuk bicara? Tolong jawab aku. Apa
kalian pikir aku berbicara pada tembok? Jawaaaab, bodoh!!
Shella masih menangis, dan mengambil kotak music yang sedari tadi terbuka dan
mengalunkan melodinya.
“Sebuah melodi perpisahan yang bagus Jo, dari mana
kau dapat ide ini?” Shella menyunggingkan senyum nya. Senyum yang tulus untuk
orang yang sangat ia sayangi. Lalu tertawa lagi dan lagi.
BABAK
IV
Seseorang membuka gerendel pintu, terdengar suara
tapak kaki yang semakin lama semakin mendekat kearah Shella. Shella gemetar dan
panic. Ia hendak keluar, tetapi sesosok lelaki berjanggut telah berdiri
dihadapannya. Seorang yang tak pernah ia kenal.
“k-kau si-apa?? Apa yang kau lakukan disini? Apa
maumu?” Shella gemetar, ia menodong pistol ke wajah pria tersebut. “pergi!
Jangan ganggu aku!”
“apa kau Shella?” Tanya pria itu dengan lembut.
“tenang, aku tahu apa yang terjadi. Aku mengenal ibumu. Dia sahabatku. “
“lalu mau apa kau kemari? Apa kau ada hubungannya
dengan kematian ibuku? Haah?” masih dengan posisi menodong pistol, dan
menggenggam kotak music yang masih mengeluarkan melodinya.
“Apa kau ingin cerita yang sebenarnya? Kronologis
kematian ibumu? Dan ayahmu?” Shella
mulai melunak, rasa penasarannya semakin tinggi.
“saat kau dilahirkan, kau lahir tidak sempurna.
Maksudku, kau tidak bisa melihat.” Dia mulai sedih.
“apa maksudmu? Aku dilahirkan buta? Lalu kenapa aku
sendiri tidak mengetahui hal itu?” Shella naik pitam.
“tunggu dulu, Shella. Sewaktu umurmu 2 tahun, ibumu
tidak tega melihatmu yang sama sekali belum mengenal ibu dan keluargamu. Jadi
ibumu ingin mendonorkan matanya untukmu, dan waktu itu yang mengoperasi kalian
adalah ayahmu sendiri.” Dia menarik nafas, tak sabar ingin memberitahukan
cerita selanjutnya, ia memperbaiki posisi duduknya. “saat itu ayahmu sudah
berusaha semaksimal mungkin untuk menyelematkan kalian, tapi apa daya, hanya
kau yang berhasil diselamatkan dalam operasi itu.”
Shella meneteskan air mata. “lalu ibuku? Kemana ? apa
ia perg?”
“ibumu meninggal dunia, dan sejak saat itu, ayahmu menggunakan
obat-obat terlarang. Dia sangat frustasi ketika kehilangan ibumu, jadi dia
mencoba menenangkan diri dengan menjadi seorang drug user. Sedangkan kakakmu,
Sebastian, dia berumur 9 tahun.”
“lalu saat ayahmu kehilangan kendali, ia mencoba
membunuhmu dengan tangannya sendiri. Dia sakaw. Jadi untuk melindungimu,
Sebastian memukulkan botol pecah kepunggung ayahmu hingga dia tewas. “
“Sebenarnya kau ini siapa? Menceritakan lelucon yang
sudah basi itu kepadaku? Apa untungnya bagiku? Toh, mereka semua sudah
meninggal dan meninggalkan aku. “ Shella tertawa sinis kepada pria tersebut.
tapi, pria itu dengan tenang mengatakan. “kau mungkin
tidak mengenalku, tetapi aku sangat mengenalmu dan keluargamu. Aku adalah pria
yang dicampakkan oleh ibumu demi ayahmu.” Dia mulai meneteskan air matanya.
“Aku sama tersiksanya dengan dirimu sekarang ini,
Shella. Tapi aku tidak bertindak bodoh sama sepertimu, kau egois, dan tidak
memedulikan kakakmu, terlebih kekasihmu yang telah mati itu. Kau sama bodohnya
dengan ibumu, mencampakkan semua yang paling berharga demi sesuatu yang tolol.
Itu sangat menjijikkan, kau tahu?” Shella
menangis, ia mengambil mengarahkan pistol yang sedari tadi ia genggam. Pria itu juga mengambil pistol dari dalam
sakunya, dan langsung menarik pelatuknya kearah Shella. Mereka berdua sama-sama
menarik pelatuk pada waktu yang sama. Shella terjatuh dengan kepala bersimbah
darah, tangannya terkulai lemas. Kotak music yang ia genggam terbuka kembali
dan mengalunkan alunan music yang menyedihkan.
Semua pergi, menghilang, dan lenyap seketika, hanya
karena sebuah kesalahpahaman.
P.S: This script was written by me when i was in a senior high school. This script is for a theater. And i was trusted by my friends to write the script. hehe, actually i was choosen as a best director not as a good writer. Lol.
October 2016

Comments
Post a Comment