Konsep Tubuh dalam Film "Kucumbu Tubuh Indahku"


Konsep Tubuh dalam Film “Kucumbu Tubuh Indahku”

 
Kucumbu Tubuh Indahku
 Sumber: katadata.co.id 

Bagaimana kita memaknai tubuh kita? Mungkin setiap kita pernah mempertanyakan ini pada diri sendiri, atau mungkin tidak. Banyak cara untuk memaknai tubuh kita sebagai manusia, dan pastinya makna tersebut tak akan lahir jika tidak mengetahui konsep kenapa kita harus memiliki tubuh, kenapa tidak hanya jiwa? Tubuh tidak hanya seonggok daging. Memang, pada dasarnya tubuh yang dibahas adalah itu itu saja. Tubuh memiliki cerita historinya sendiri yang terdiri dari beberapa fase. Setiap fase tersebut memiliki pandangan masing-masing terhadap tubuh, ada yang memandang sebagai pelengkap jiwa, suatu hal metafisis yang melatarbelakangi jiwa, sumber masalah, dan masih banyak lagi.
Perjalanan pemahaman mengenai tubuh bergulir ke zaman Yunani. Masyarakat Yunani meyakini bahwa tubuh adalah penjara bagi jiwa. Seorang Empedokles menyebutkan tentang transmigrasi jiwa, yang meyakini bahwa jiwa dari tubuh manusia mati akan mencari tubuh lain untuk ditempati Zaman Sokrates, Plato meyakini dualisme tubuh dan jiwa. Berbeda dengan Plato, Aristoteles menyatakan bahwa tubuh dan jiwa adalah satu kesatuan, dimana jika tubuh manusia mengalami kerusakan, maka jiwa pun mengalami hal yang sama. Aristoteles membedakan tubuh manusia menjadi 2, yaitu tubuh natural (bergerak atas kemauannya sendiri) dan tubuh artifisial (bergerak karena ada yang menggerakkan terkait ruang dan waktu). Berlanjut ke zaman Abad Pertengahan dan Reinassance, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa tubuh adalah substansi yang terdiri dari 3 hal dasar yang membentuk komposisi alami dari segala realitas fisik, yaitu Matter, Form, dan Privation.  Sama halnya dengan Plato, Aquinas berpendapat bahwa jiwa dan tubuh adalah dua hal yang terpisah.
Dalam antropologi terdapat empat alasan yang diberikan berkaitan dengan studi tubuh. Pertama, tubuh masuk ke dalam ontologi manusia. Kedua, studi mengenai asal-usul manusia dan kebutuhannya menjadi sangat penting untuk dibahas dan berkembang lagi dengan masuknya persoalan alam dan kebudayaan. Ketiga, kontribusi pada studi tubuh telah mengalami sejak masa Victoria dimana pada masa itu telah ada studi darwinisme sosial. Keempat, tubuh dalam masyarakat modern merupakan penanda penting bagi status sosial seseorang, posisi keluarga, umur, gender, dan hal-hal yang bersifat religius.
Nancy Scheper-Huges dan Margaret Lock membagi tubuh menjadi tiga, yaitu tubuh sebagai pengalaman pribadi, tubuh sebagai simbol natural yang melambangkan hubungan antara alam, masyarakat, dan kebudayaan, serta tubuh sebagai instrument pada kontrol sosial dan politik yang ada di masyarakat. Persoalan tubuh telah didefinisikan oleh penegasan bahwa bentuk fisik tidak hanya merupakan sebuah realitas yang natural, namun juga konsep kultural sebuah cara pengkodean nilai-nilai masyarakat melalui bentuk, ukuran dan atribut tubuh itu sendiri.
Berdasarkan perjalanan sejarah tubuh yang sudah dibahas di atas, Menarik untuk dikaji lebih dalam mengenai ketubuhan manusia melalui sebuah mahakarya Garin Nugroho dalam filmnya yang berjudul “Kucumbu Tubuh Indahku”. Film ini mengangkat tema perjalanan batin seorang penari lengger. Sebelum film ini tayang, selama 3 tahun, Garin bersama penari dan koreografer terkemuka Rianto (penari lengger lanang Banyumas) dan tim riset, melakukan perjalanan riset sekaligus sebagai materi seri karya tari, salah satunya bertajuk “Medium”. Riset karya ini berkeliling dari Banyumas hingga seni-seni tradisi indonesia, kemudian setelah karya tari medium, lahirlah film Kucumbu Tubuh Indahku. Bersumber riset tari lengger lanang Banyumas (penari laki-laki yang menarikan tarian perempuan) hingga bissu di Sulawesi. Tarian lengger sendiri sebenarnya sudah ada sejak abad ke-18.
Sejarah dunia pada abad ke-18, zaman Renaissance, segala pemikiran dan ilmu pengetahuan mulai berkembang dan banyak pemikiran baru di mana-mana. Tubuh menjadi suatu hal yang diakui keindahannya. Memasuki periode modern pada abad ke 19, konsep tubuh semakin berkembang dengan adanya studi antropologi. Pembicaraan mengenai tubuh berlanjut hingga ke area nilai-nilai sosial di mana persoalan tubuh menjadi lebih kompleks, tidak hanya penanda sebagai penanda kebudayaan saja, tetapi juga meliputi ketubuhan itu sendiri, alam, bahkan masalah pengetahuan juga dimasukkan mengenai permasalahan tubuh. Persoalan tubuh mulai berkembang lagi, hingga pada masanya tubuh dibedakan menjadi dua, yaitu laki-laki dan perempuan. Pembagian tubuh menurut alat kelamin ini melahirkan makna seksualitas.
Perjalanan Arjuno diawali semenjak dia kecil yang tak benar-benar mempermasalahkan identitasnya. Ia menerimanya sebagai sesuatu yang alamiah dan tari lengger adalah medium penyalur ekspresi dari ketubuhannya yang kompleks. Kata lengger sendiri berasal dari "leng" yang artinya lubang, dan "ngger" yang artinya "jengger". Artinya, seperti perempuan tetapi laki-laki. Tari lengger dimainkan oleh laki-laki yang merias dirinya seperti perempuan. Dalam kesenian Banyumas, ini adalah tradisi yang alamiah dan bukan suatu "aib" yang mesti dibasmi seperti yang kerap diresahkan oleh masyarakat modern yang dogmatis. Karena komitmen lengger menurut Rianto adalah benar-benar mencoba melakukan perjalanan tubuh untuk meleburkan maskulin dan feminin dalam bentuk kesenian. Pada akhirnya, menurutnya, lengger adalah proses penyatuan tubuh masyarakat dengan sang penciptanya.
Hal ini mirip dengan konsep tubuh dalam teologi tubuh menurut Gereja Katolik oleh Yohanes Paulus II, yang menyatakan bahwa tubuh adalah suci maka tubuh harus digunakan untuk memuliakan Penciptanya. Tubuh modern dipahami sebagai karya Tuhan yang diciptakan baik adanya. Tubuh tidak diciptakan untuk dipisahkan dari jiwa melainkan untuk disatukan demi pelayanan terhadap sesama dan kemuliaan Tuhan. Bagi Yohanes Paulus II, tubuh adalah alat atau sarana komunikasi. Melalui tubuh manusia menampakan secara nyata kehadirannya. Teologi Tubuh menjadi salah satu revolusi besar-besaran untuk semua kalangan agar semakin menjaga, menghargai dan meningkatkan tubuh sebagai ciptaan Allah yang luhur dan bermartabat.
Penghargaan terhadap tubuh manusia nyaris sirna dengan banyaknya tindak pelecehan, kekerasan dan lain-lain. Tubuh dalam masyarakat dinilai terlalu murah sehingga mudah untuk dikorbankan demi kepentingan tertentu yang sama sekali tidak mulia (Kusmaryanto, 2003 dalam skripsi Widi Asuti, 2010). Berkebalikan dengan hal itu, dalam film ini terlihat bagaimana Juno menggunakan tubuhnya dengan kehendaknya dan kebebasan dalam mengekspresikan dirinya lewat tarian lengger.
Yang menjadi fokus dalam film ini adalah pada perjalanan tubuh Rianto bertema maskulin-feminin yang dalam film ini diperankan oleh Mohamad Khan sebagai Arjuno. Di mana ia mematahkan soal tubuh yang dibagi menjadi 2 gender yang selama ini diakui oleh masyarakat. Dalam poin ini tubuh mulai belajar memberontak keluar dari apa yang sudah seharusnya seperti yang dituliskan dalam nilai-nilai masyarakat.
Seorang filsuf Perancis, Michel Foucault, memandang tubuh sebagai sebuah instrument yang sangat penting bagi manusia. “The body is an object of knowledge”. Ia melihat fenomena normal-abnormal yang ada di masyarakat yang dipatenkan oleh masyarakat itu sendiri. Dimana konsep tubuh yang normal adalah tubuh tidak memiliki cacat baik fisik maupun mental, dan bahkan meluas pada persoalan selera, pilihan bahkan orientasi seksual seseorang. Paham normal-abnormal menjadi sebuah “ideologi” tersendiri dalam masyarakat. Yang kemudian terjadi adalah tersingkirnya orang-orang dari masyarakat terutama yang dianggap “tidak normal” dari orang-orang lain.
Di pertengahan film, Juno dewasa tinggal dengan pakdenya hingga pada akhirnya dipertemukan dengan seorang petinju. Petinju di sini digambarkan sebagai sosok yang haus akan kasih sayang bahkan tidak pernah sekali pun dipeluk. Saat momen seperti itulah hati Juno tergerak dan mulai menyimpan rasa sayang terhadap si petinju ini. Jika dikaitkan dengan era modern ini, cinta yang dimiliki Juno terhadap si petinju adalah sesuatu yang aneh dan dianggap tidak normal karena menyukai individu yang dinilai sama dengannya dalam hal gender. Orientasi seksual akan dipermasalahkan pada zaman ini.  Selain itu, Garin juga mencoba memotret hal yang lebih luas dari sekadar kisah seorang penari, yaitu penghakiman sepihak.  Kisah “Kucumbu Tubuh Indahku” mencerminkan sikap sebagian masyarakat Indonesia yang konon beragam namun faktanya sulit menerima perbedaan. Hal ini kemudian menekan sebagian pihak lainnya hingga menghadapi berbagai kesulitan menjalani hidup.
Dengan latar belakang Juno yang ditinggal oleh ayahnya, dan tinggal berpindah pindah mulai dari rumah bibinya hingga rumah pakdenya pada masa 1970-1980an memiliki trauma tersendiri baginya. Kita diajak memahami sejarah lewat ingatan yang tersimpan dalam tubuh. Karena lewat tubuh, segala realitas hidup dialami secara langsung. Juno mengalami sejarah kekerasan dan pertumpahan darah dalam setiap peralihan hidupnya. Kakeknya dibunuh karena dituduh PKI, sementara guru tari lenggernya melakukan pembunuhan terhadap temannya dengan amat dingin. Dilihat dari betapa dia sangat trauma terhadap darah ketika bibinya menusuk jarinya saat ia ketahuan memeriksa telur pada ayam milik warga. Hingga waktu ia dewasa, kadang melukai jarinya dengan jarum hingga berdarah. Tubuhnya menyimpan banyak trauma dan kepedihan yang bila tidak diselesaikan akan menggerogoti jiwa si pemilik tubuh.
Dalam pembahasan mengenai tubuh, Michel Foucault dalam bukunya yang berjudul History of Sexuality, menyatakan bahwa tubuh bukanlah sebuah hal yang rasional yang bisa diatur melalui sebuah aturan keras. Tubuh merupakan instrument yang harus dinikmati dengan penuh rasa. Tak hanya soal kenikmatan tubuh, hal politis juga berhubungan dengan tubuh yang akan terbentuk dalam sistem kuasa yang ada di masyarakat. Tubuh merupakan instrument bagi kuasa yang ada. Maka dalam pandangan Foucoult, tubuh adalah tubuh politis yang akan selalu terkait dengan masalah politis, di mana hal ini mencakup relasi dan kekuasaan.
Konsep tubuh dalam film ini sangatlah kompleks. Juno memanfaatkan tubuhnya seutuhnya, secara kultrual ia menjadi seorang lengger dan bebas mengekspresikannya melalui media tersebut. Mulai dari perjalanan tubuh Arjuno yang meleburkan antara maskulin dan feminin. Mengutip pernyataan dari Rianto, “Perjalananku adalah tubuhku, Tubuhku mencari ibuku, aku menemukannya dari sebuah peralihan tubuhku yang hadir tanpa tanda-tanda, yang bebas dalam misteri kesaktian dan keindahan”. Juno telah memaknai tubuhnya dengan bebas. Semoga manusia-manusia lain juga bebas dalam mengekspresikan tubuhnya agar tubuhnya tak hanya dibentuk oleh sosial.

Referensi
Film Kucumbu Tubuh Indahku, karya Garin Nugoroho
Astuti, Widi. 2010. Teologi Tubuh: Kajian Terhadap Pandangan Para Pelacur Tentang Tubuhnya di Pasar Kembang Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Parmato, Khairil. 2007. Tubuh dalam Manifesto Sejarah, Michel Foucault, dan Seksualitas. Skripsi. Depok: Universitas Indonesia.
Redaksi Rakyat Jelata. 2019. Film kucumbu tubuh Indahku memuat trauma politik hingga personal. https://rakyatjelata.com/film-kucumbu-indah-tubuhku-memuat-trauma-politik-hingga-personal/ diakses pada 15 Desember 2019

Comments

Popular Posts